Pernikahan · Sikap dan Keputusan

Wanita Karir / IRT ? It’s your choice (versi IRT)

Ini yang selalu menjadi perdebatan ketika akan melangkah ke jenjang yang lebih serius (pernikahan) setiap pasangan pasti akan membahas mengenai ini. Apakah istrinya akan diam dirumah untuk mengurus rumah, suami dan anak namun bagaimana caranya agar tetap produktif atau mengizinkan istrinya untuk tetap berkarir diluar sana dan meminta bantuan kepada orang lain untuk mengurus rumah dan anak. Karena notabene nya seorang wanita yang sudah menikah tidak akan bisa sekaligus mengurus rumah, suami dan anak namun tetap berkarir. Akan ada yang dikorbankan salah satunya, entah itu masalah pekerjaan rumah, masalah mengurus anak, masalah waktu dengan suami dan keluarga, masalah pekerjaan yang mengharuskan lembur tiap hari. Sebab itu, jika ada wanita yang memilih tetap berkarir dan menjadi IRT, ia pasti akan meminta bantuan entah itu kepada Ibunya sendiri, adiknya, atau menyewa pengasuh/ART. It’s your choice

Berkarir ? Berumah tangga ? Emansipasi wanita, kata mereka begitu. Wanita jangan cuman bisa berlindung dibawah ketiak suami. Wanita harus memiliki penghasilan agar bisa dihargai oleh orang lain maupun oleh keluarga sendiri. Penghasilan? penghasilan apa yang dimaksud? bekerja pagi sampai sore di RS ? Banting tulang demi menafkahi keluarga, Lalu tugas suami apa? Hanya diam dirumah dan mengurusi rumah tangga?. Apakah emansipasi wanita hanya sebatas dalam pengertian itu saja? Yang segalanya berorientasi pada materi. Padahal Allah sudah menjamin setiap rezeki hambaNya, bahkan hewan melata pun seperti cicak sudah Allah jamin rezekinya. Lantas salahnya dimana? Kemajuan teknologi kah? kemajuan jaman kah ? Hmmm.. karena selama ini aku menemui beberapa orang yang memilih untuk tetap berkarir orientasinya adalah materi. Misal: seorang suami adalah aparat sipil negara, namun si istri harus tetap bekerja walaupun kebutuhannya sudah terpenuhi oleh suaminya. Si istri bilang kalau ia kerja untuk membantu keluarganya, malas diam dirumah nanti cepat tua atau dia sudah sangat nyaman dengan pekerjaanya. Jadi alasan mana yang betul ya?

Pernah ketika aku membuka medsos ada postingan yang kurang lebih seperti ini : “kenapa kamu bekerja, apa suamimu kurang menafkahimu?”, “tidak! suamiku sudah lebih dari cukup untuk menafkahiku. Hanya saja aku punya banyak impian besar, tak adil rasanya jika hanya dia yang lelah untuk mewujudkan semua impianku.”

Impian seperti apa? Impian yang menomor dua kan keluarga bahkan anak-anak? Mengejar mimpi, tapi tak bisa memberikan waktu sepenuhnya untuk suami dan anak-anak, tujuan rumah tangga untuk apa? untuk mencetak generasi-generasi yang sholeh dan sholehah, berguna untuk agama dan memberikan banyak manfaat untuk orang disekelilingnya? atau untuk saling melanjutkan mengejar mimpi masing-masing yang sempat tertunda akibat pernikahan?

Setiap orang bahkan setiap wanita memiliki impiannya masing-masing dan aku sebagai wanita sangat menghargai impian wanita-wanita diluar sana. Namun bagaimana caranya bisa menghasilkan generasi-generasi yang lebih baik kalau perkembangan seorang anak pun kita tidak mengetahuinya sedangkan madrasah pertama bagi seorang anak adalah Ibunya sendiri, bukan neneknya, bukan tantenya dan bukan pengasuhnya. Aku tidak bermaksud menyudutkan pendapat wanita-wanita disana yang memiih berkarir dan berumah tangga. Hanya saja, menurutku tidak akan bisa seseorang menjalankan 3 peranan sekaligus. sebagai karyawan di suatu perusahaan, sebagai seorang istri dan sebagai seorang Ibu. Pastinya dari ketiga peranan itu akan ada yang terkorbankan. Memang bagus mengejar impian bersama suami tercinta tapi apakah dengan mengejar impian itu waktu bersama dengan anak-anak akan terbuang begitu saja? Dilewatkan begitu saja? Atau malah akan merepotkan keluarga yang lain untuk mengurusi anak-anak kita sendiri?

Semakin hari ditempat kerja pun banyak sekali wanita-wanita yang memilih untuk tetap berkarir. Sebelum memutuskan resign aku bilang pada teman-temanku di kantor, bahwa aku akan menjadi Ibu Rumah Tangga yang menghabiskan waktuku dengan suami dan anak-anak namun tetap produktif dan harus lebih produktif dari sebelumnya. Mereka menghargai keinginan aku tapi tak sedikit kalimat nyinyir dari mereka seperti “Bosen dong nanti seharian dihabiskan dirumah, Jenuh dong kalau mau shopping gak bisa karena harus nunggu uang gaji dari suami itupun udah dipisahkan dengan kebutuhan sehari-hari (kalau ada sisa, kalau engga ada kan gak bisa shopping)” hehehehe aku cuman bisa tersenyum aja denger mereka ngomong gitu. Gak lama ada yang nyeletuk bilang “Buat apa atuh ya sekolah tinggi-tinggi, mana sekarang dilanjutin lagi sekolahnya. Terus itu gelar buat apaya kalau ujung-ujungnya jadi IRT? mending kaya aku cuman lulusan SMA tapi ijazahnya berguna.”

Memang sebelum menikah, teman-teman dikantorku mengetahui bahwa aku melanjutkan kuliahku ke pasca sarjana mereka berpikir bahwa aku akan tetap bekerja walaupun sudah menikah. Tapi nyatanya aku malahan akan mengundurkan diri .. Tapi aku mulai heran dengan jalan pikiran mereka. Mereka selalu bilang Jadi IRT doang. Lhoo?? gak pantes julukan itu ditambahin embel-embel “doang”. Aku pernah membaca buku yang isinya kurang lebih seperti ini: “Jika engkau tak mampu merubah manusia menjadi baik, maka didiklah anak-anakmu untuk menjadi baik. Kalau bukan generasimu yang mampu mengubah manusia, bisa jadi generasi anak-anakmu lah yang mampu mengubah manusia menjadi generasi yang baik.”

Jadi… untuk kalian wanita yang berpendidikan tinggi dan menjadi IRT, tenang saja.. It’s not bad dan pekerjaan mulia yang tidak akan mampu dibayar oleh bos manapun (kecuali Allah), tak pantas dibubuhkan kata ‘cuma’, ‘saja’, atau ‘hanya’ didepannya. Kalian bukan cuma (atau hanya) IRT, kalian tempat dimana anak-anak kalian menerima pendidikan pertamanya. So… Be Happy 🙂

2 tanggapan untuk “Wanita Karir / IRT ? It’s your choice (versi IRT)

  1. Buatku semua itu sama bagus kok. Aku 13 tahun kerja, dan akhirnya toh resign. Skr, jujur aja udh keenakan resign mba, ih ga pusing mikirin masalah kantor yg ga abis2 :p. Hidup lebih rileks bareng anak2.

    Kalo pas kerja, anak2 diasuh Ama babysitter2 mereka sih. Jujurnya sampe2 skr pun, aku ttp dibantu Ama asisten2, Krn aku mau ada waktu di mana aku juga bisa fokus ngerjain hobiku. Di jam2 itu, aku ga kepengin diganggu anak. Makanya asisten ttp aku pertahankan utk bantu2.

    Kalo aku mah, mungkin tipe cuek sih yaa. Yg komen julid, aku anggab aja angin lalu :D. Ga perlu didengerin :). Kita yg tahu, apa yg terbaik buat kita dan keluarga

    Suka

    1. Daaan pada akhirnyaaa ,semua wanita itu akan Resign pada waktunyaa yaa mbaa 😀 ..awalnya aku juga berat bangeet buat mutusin resign, sekarang udh resign malah asyik banget nikmatin banyak waktu dirumah bareng anak 😀 , kalau aku sekarang mending pusing mikirin rumah tangga daripada pusing mikirin kerjaan yang gak ada ujungnya wkwkwkw

      Masuk telinga kanan keluar telinga kiri yaa mba 😃

      Suka

Give me your opinion ***

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s