Kehamilan dan Persalinan

Kehamilan Yang Menuntut Untuk Terus Bahagia

Cerita kehamilan dan persalinan untuk anak pertama memang belum sama sekali aku share di media manapun. Tahun lalu udah mau aku share tapi belum nemu moment yang pas aja apalagi aku mengurus anak sendiri tanpa ada bantuan dari orang lain bahkan keluargaku sendiri dan keluarga suamiku. Maklumlah aku tinggal hanya berdua bersama suami (eh bertiga deng sekarang). Beberapa waktu lalu aku menemukan postingan di blognya ibupedia ternyata ibupedia sedang mengadakan Blog Competition. Waahhh.. udah lama banget blog ini gak pernah diikutin lagi blog competition, padahal waktu tahun 2013 udah sering ikutan blog competition hehehe. Alhamdulillah lagi untuk kategori penulisan artikel itu semua sangat menarik seperti: Kehamilan dan persalinan, tentang anak, ASI & MPASI, Family dan Parenting. Kategori itu semua memang pengen aku tulis banget diblog, alhamdulillah dengan mengikuti kontes ini, menjadi moment untuk aku berusaha berbagi pengalaman dan pelajaran yang bisa dipetik hikmahnya dan yang paling penting semoga ada manfaatnya.

( Flashback ) Trimester I

Sekitar bulan Oktober 2018, belum ada tanda apa-apa seperti perut kram atau apa gitu, tapi aku selalu merasa kelaparan sampai berat badanku naik 2kg dari 49 menjadi 51kg. Sampai pada pertengahan Oktober 2018 aku selalu mual-mual, apa yang aku makan selalu keluar lagi dan lagi. Aku tak pernah berpikir kalau aku hamil, karena periode siklus haidku akan datang pada tanggal 27 Oktober 2018 (FYI: dari gadis sampai punya anak siklus haidku selalu normal kalaupun telat 1-3 hari gak pernah lebih dari itu). Sedangkan pada saat aku mual-mual itu pertengahan Oktober 2018, aku berpikir kalau aku hanya masuk angin saja karena aktifitasku mengajar dan sorenya aku kuliah. Jadi sebelum pergi ke kampus, aku dan suami memutuskan untuk ke RS terlebih dahulu dan memeriksakan kondisiku. Dokter menanyakan kepadaku apakah aku sedang hamil atau tidak dengan yakin aku jawab tidak karena memang tanggal periode haidku masih jauh jadi aku tidak tahu apakah aku terlambat atau tidak. Dokter memberikan diagnosa Gastritis dan aku langsung dibawa ke ruang tindakan untuk disuntik cairan supaya mual karena gastritisnya hilang. Malam hari setelah pulang kuliah aku membeli ayam geprek dan ceker kuah pedas untuk menghilangkan rasa mualku jadi aku membeli makanan-makanan pedas pada malam itu.

28 Oktober 2018, aku baru saja telat haid sehari tapi suami gercep langsung beli testpack. Aku sih udah feeling kalau aku hamil, tapi rencananya aku engga akan dulu langsung di testpack. Tapi rasa penasaran suami ternyata lebih tinggi, esok harinya setelah solat subuh aku langsung testpack dan hasilnya langsung garis 2 dong. Alhamdulillah.. ternyata memang benar aku sedang mengandung, berarti yang kemarin aku muntah-muntah itu bukan karena gastritis atau masuk angin itu karena aku memang sedang hamil muda. Selama trimester I gak ada hal-hal yang buat aku gak nyaman. Aktifitasku masih seperti biasa mengajar, kuliah, mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak juga dan alhamdulillah juga di trimester I ini aku selalu bisa makan enak.

Menginjak akhir trimester I, ujian mulai berdatangan satu persatu. Yang pertama aku dan suami terkena musibah rumah kontrakanku kebanjiran, air semua masuk kedalam rumah sampai se-betis. Awalnya aku dan suami tidak menyadarinya karena kami sedang berada dikamar, pukul 18:30 WIB tiba-tiba kami mendengar aliran air yang deras banget pas buka pintuu. wushhhhhh!! masuk semua air kedalam kamar dan melihat sekeliling rumah sudah dipenuhi dengan air. Tak banyak barang-barang yang bisa aku selamatkan, aku sangat shock atas kejadian ini dan membuatku lebih stress lagi ketika aku dan suami harus membersihkan rumah setelah habis kebanjiran (hanya berdua tanpa adanya bantuan). Allahuakbar, tak sampai disitu ujian kembali datang beberapa hari setelah musibah kebanjiran aku menjenguk nenekku di rumah sakit, Qadarullah Aku diizinkan untuk menyaksikan sakaratul maut nenekku tepat dihadapanku bahkan aku sendiri yang melafalkan kalimat Laa Ilaaha Illa Allah di telinga nenekku. Hancur hatiku, air mata tak terbendung. Walaupun aku tak pernah terlahir dari rahimnya tapi selama 25 tahun ini Nenekku selalu ada untukku. walaupun syurga tak ada ditelapak kakinya, bagiku ia adalah syurgaku. Walaupun aku bukan anaknya (hanya salah satu dari cucu-cucunya) tapi ia selalu menganggapku seperti anaknya sendiri yang terlahir dari rahimnya. Ia yang menyelamatkanku dari pahitnya keluarga yang tak sempurna, Ia memenuhi kasih sayang padaku disaat kedua orang tuaku tak bisa memberikannya padaku. Dan ia menyempurnakan hidupku layaknya seperti orang lain.

Trimester II

Katanya, Seorang wanita yang sedang mengandung itu harus bahagia. engga boleh stress dan sedih karena itu yang bikin janin ada di ‘lingkungan’ yang kurang kondusif. Tapi sebenernya tuntutan untuk harus selalu bahagia juga kadang bikin adem panas, secara gak mungkin juga selama hamil kita hepi terus ya, pasti kadang mewek lah, kadang cape bangetlah, sering sensi lah, apalagi setelah kejadian kemarin yang buat aku semakin tertekan. hufftt… disini peran suami sangat besar! suami selalu bilang padaku: “engga apa-apa kok kalau kamu sedih, galau, sensi tapi jangan sampe kamu malah stres kuadrat karena engga mau/bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi. Engga apa-apa kalau emang kamu lagi engga baik-baik aja, terima dulu dan identifikasi kenapa sebabnya setelah itu kamu fokus dalam penyelesaiannya biasanya kamu gimana biar reda hatinya? biar kamu engga terusan meratap. Mau liburan? Shopping? ke salon?” Setelah suami menasehati penyelesaiannya, minta maaf sama Allah, diri dan dedek bayi! karena senegatif apapun emosi harus diusahakan mengimbanginya dengan hal yang positif dan selalu kasih afirmasi positif sama si dede bayi. Masalah lain mulai timbul, beberapa bagian tubuhku mengalami gatal-gatal karena tubuhku semakin lebar, jadilah timbul strech mark yang aku tidak tahu ini bekasnya akan hilang kapan. selain itu kandung kemihku mulai sakit setiap buang air kecil padahal Ibu hamil harus sering buang air kecil karena ia harus minum yang banyak selama kehamilan dan dokter menyarankanku untuk meminum monuril untuk menyembuhkan sakit ketika buang air kecil karena dikhawatirkan jika tidak disembuhkan akan menyebabkan ISK dan akan berdampak pada janin. Masalah tak sampai disitu, Aku juga harus sampai dilarikan ke RS karena aku kecapean mengajar dan kuliah jadi aku tak begitu memperhatikan asupan makananku. Aku kekurangan cairan yang menyebabkanku harus di rawat inap selama beberapa hari, mereka mengkhawatirkan janinku karena aku kekurangan cairan tapi setelah di USG alhamdulillah janinku sehat-sehat aja dan menurut dokter perkembangan dede bayi dalam perut bagus.

Trimester III

EndTrimester, akhirnya sampai ditahap ini. Akhir-akhir ini aku merasa betapa sangat sulitnya untuk berjalan panjang, gampang banget ngos-ngosan. Tubuh rasanya cepet banget lelah dan pegel-pegel secara selama kehamilan ini aku sudah naik 22kg dari 49kg menjadi 71kg, kebayang dong sebesar apa aku pada saat itu? tapi betapa super sabarnya suamiku yang selalu menuruti kemana maunya aku padahal fisik udah engga memungkinkan. Posisi tidur juga di trimester ini sungguh sangat serba salah karena bayiku terhitung besar sampai berjalan pun aku pincang-pincang karena pinggang ini rasanya sakit sekali. Akhirnya suamiku memutuskan untuk aku tinggal besar dengan ibunya (mertuaku) untuk sementara waktu agar ketika suamiku berangkat kerja, aku ada yang menjaga. Aku sangat beruntung memiliki suami yang siaga 24 jam walaupun dia berada ditempat kerja namun komunikasi tak pernah putus dia selalu menanyakan kabarku sampai dia pulang ke rumah kembali. Ketika tinggal bersama mertua kebetulan sedang bulan Ramadhan awalnya aku ikut berpuasa namun kepalaku sering pusing dan berat badan bayiku menurun lalu dokter menyarankanku untuk berpuasa selang seling. Sebelum aku menemukan artikel Hukum Puasa Bagi Ibu Hamil yang ada di website ibupedia aku galau apakah aku berpuasa saja atau membayar fidyah, tapi setelah membaca artikel itu aku jadi tidak memaksakan diri untuk ikut berpuasa di bulan ramadhan. Ini adalah hasil USG 4D si bayi yang sebentar lagi bakalan bisa aku peluk dan cium-cium

Persalinan

HPLku tanggal 08 Juli 2019, namun sehari sebelumnya aku mengalami mules tapi belum intens. Aku dan suami langsung pergi ke RS karena kebetulan hari itu adalah hari terakhir aku kontrol kehamilan. Dokter mengecek semua kondisiku dan ternyata itu hanya kontraksi palsu lalu dokter langsung menjelaskan padaku bagaimana menghadapi kontraksi palsu. Setelah selesai kontrol aku kembali pulang kerumah dan esok harinya aku masih belum merasa apa-apa, tak ada tanda-tanda mules dan aku masih beraktifitas seperti biasa, jalan-jalan walau udah mulai ngos-ngosan, makan buah nanas, buah kiwi dan perbanyak minum air putih. Malam harinya aku mulai merasa mules dan sudah ada bercak darah, suami dengan sigapnya membawa aku langsung ke RS setelah diperiksa bidan ternyata aku baru bukaan 2 hufttt… hari itu usia kandunganku sudah 40w4d yang dimana seharusnya bayi sudah lahir. Aku diminta pulang kembali kerumah, namun suami memintaku untuk dirawat saja di RS dan masuk r.observasi karena dikhawatirkan pas sampe rumah mules itu kembali datang dan lebih intens dari sebelumnya. Pihak RS menyetujinya dan mempesiapkan aku untuk segera memasuki r.observasi. Ternyata diam di RS membuat aku makin stres karena di r.observasi rata-rata mereka sudah bukaan 5/6 keatas hanya aku saja yang masih bukaan 2. Jam 11:30 PM aku diperiksa oleh dokter dan dokter segera memeriksa bayiku dengan bantuan alat USG. Pada saat itu bukaanku baru 3 dan ternyata ketubanku sudah rembes lalu dokter menyarankanku untuk berlari-lari kecil di sepanjang jalan koridor RS.

09 Juli 2019 = 40w5d

Pagi itu bukaanku masih 4, aku mengikuti saran dokter untuk berlari-lari kecil di sepanjang koridor tapi aku tak bisa bertahan lama karena perut bawahku selalu sakit. Selama di RS aku susah untuk buang air kecil, itu dikarenakan kepala bayiku sudah menekan kantung kemih yang membuatku kesakitan tiap berjalan dan tertidur. Sampai saat itu pun aku tak mengalami kontraksi yang intens hanya sesekali saja bahkan pembukaanku hanya bertambah 1 setiap 4 jam sekali, tak lama bidan menyarankanku untuk induksi karena keadaaan ketubanku yang sudah rembes dan kontraksi belum intens. Malam harinya aku langsung di induksi dengan harapan supaya bayiku bisa lahir pada malam itu juga, pasien disampingku juga sama ia baru pembukaan 6 dan langsung induksi sepertiku. Allahuakbar rasanya persalinan dengan induksi itu luar biasa, perut benar-benar sakit sekali ditambah dengan kantung kemihku yang sama sakitnya karena aku tak bisa buang air kecil.

10 Juli 2019 = 40w6d

Pukul 02:00 AM pasien disampingku sudah melahirkan, padahal jam induksinya sama denganku tapi ia bisa langsung naik ke pembukaan lengkap (sepuluh) sedangkan pembukaanku baru pembukaan 7 dan aku tidak begitu merasakan kontraksi yang benar-benar intens walaupun sudah di induksi. Pagi harinya bidan bersama dokter datang ke kamarku, ia mengecek pembukaanku ternyata baru pembukaan 7 dan tidak naik lagi sedangkan aku di induksi sudah menghabiskan 2 kantong labu. Ada perasaan takut dalam diriku jika aku tak bisa melakukan persalinan secara normal, tak lama setelah dokter memeriksaku bidan berkata padaku kalau bayiku memang besar dan ada kemungkinan persalinanku nanti akan menggunakan Prosedur Ekstraksi Vakum atau dibantu dengan alat vakum. Wah sama sekali tidak terbesit dalam pikiranku bahwa aku akan lahiran secara normal dibantu dengan alat vakum. Pukul 10:OO AM bidan dengan sengaja memecahkan ketubanku supaya membantu jalan lahir dan benar setelah ketubanku bidan pecahkan pembukaanku naik langsung menjadi pembukaan 9 dan pukul 12 siang aku langsung dibawa ke ruang bersalin lalu dokter mengecek panggulku apakah aku memungkinkan untuk dilakukan prosedur ekstraksi vakum atau tidak (jika tidak pilihan satu-satunya adalah operasi cesar) alhamdulillah ternyata panggulku luas dan dapat dilakukan prosedur itu. Kemudian bidan mempersiapkan semuanya dan aku masih saja belum merasakan kontraksi yang intens, kontraksinya masih gitu-gitu aja (kontraksi yang masih bisa aku tahan) lalu dokter meminta bidan untuk memberikan cairan fenitrin/infus zat besi. Dokter curiga kalau aku kekurangan zat besi makanya aku tidak begitu merasakan kontraksi.

Setelah kurang lebih aku diinfus cairan fenitrin sebanyak 2 labu, aku mulai merasakan kontraksi yang luar biasa dahsyatnya dan ternyata pembukaanku sudah lengkap. Dokter dan bidan langsung mempersiapkan alat vakumnya, suami selalu mendampingiku selama aku di RS bahkan aku hanya di dampingi oleh suamiku saja, ia pun menyaksikan proses persalinan secara langsung didepan matanya. Persalinanku dibantu oleh 1 orang dokter, 1 dokter anak, 1 perawat perinatalogi, 1 orang perawat, 2 orang bidan dan suamiku. Bidan yang satu naik ke atas kasur, tugas ia mendorong perutku dan aku harus mengejan ketika diberi aba-aba dan berhenti mengejan ketika diberi aba-aba juga. Pukul 16:48 Akhirnya aku dan suamiku resmi menjadi Ayah dan Ibu untuk bayi putih bersih yang besar, selamat datang di keluarga kecil ini. Alhamdulillahirobbilalamiin πŸ™‚

Ketika bayiku lahir, dokter sangat kaget karena ketubanku masih bening dan bagus padahal aku sudah mengalami KPD kurang lebih sekitar 40 jam lamanya. Ternyata selama kehamilan aku kekurangan zat besi padahal aku merasa zat besiku sudah tercukupi tapi nyatanya itu kurang padahal ibu hamil sangat membutuhkan banyak zat besi untuk tubuhnya. Bayiku dibawa ke ruang perinatalogi untuk segera ditangani karena bayiku mengalami asfiksia sedang karena ia sedikit menelan air ketuban dengan kondisi ketubanku yang sudah pecah 40 jam lamanya. Bayiku harus ditangani dokter selama 3 hari dan diberikan antibiotik, jadi setelah lahiran aku menunggu di RS sekitar 3-4 hari di ruang perawatan.

Cinta itu adalah perjuangan. Seperti cinta seorang Ibu yang berjuang berbulan-bulan menopang bayinya yang berada di dalam rahim dan memastikannya untuk ia selalu aman dan nyaman di dalam sana, menopangnya hingga matahari melihatnya walaupun banyak sekali kesakitan dan ketidaknyamanan selama mengandung. Seperti cinta seorang Ibu yang berjuang dengan keras untuk melahirkan anak-anaknya ke dunia ini tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri dan tak peduli bagaimana cara persalinannya nanti apakah normal atau operasi caesar yang masing-masing pastinya memiliki resiko yang harus dihadapi dan dijalani. Semangat selalu buat para Ibu yang sedang berjuang dalam kehamilannya atau yang sedang menanti persalinannya, kencengin doa, banyakin dzikir, siapin ilmu sebanyak-banyaknya dan yang paling penting tetap berpikir positif ditengah kenegatifan yang ada disekitar kita. be happy and be strong πŸ™‚ πŸ™‚

12 tanggapan untuk “Kehamilan Yang Menuntut Untuk Terus Bahagia

  1. Terharuuuuu,.. bacanya. Sampai teringat masa masa hamilku dan saat melahirkan yang penuh perjuangan ituuuh. Huhuuu.
    Semoga Mbak dan Keluarga sehat selalu dalam bahagia yaaa. πŸ™‚

    Sehat sehat dedek nyaa, bertumbuh dengan baik dan menjadi buah hati kebanggaan orang tua yang dicintai oleh semuaa. Aamiin ya Allah.

    Love,
    πŸ’ From Me for You πŸ’

    Suka

    1. luar biasa yaa perjuangan kita sebagai seorang wanita πŸ™‚
      Aamiin Mbak jugaa sehat selalu yaa dan stay safe karena kasus covid kembali meningkat huhu ..
      makasih Mba sudah berkunjung balik semoga silahturahminya tetap terjagaa yaa πŸ’

      Disukai oleh 1 orang

  2. setiap orang punya cerita tentang keahmilan baik yang sedih, lucu dan meneyanangkan. hamil anak kedua, aku gak bisa makan di rumah karena mual dan mau muntah saja, tp kalau di rumah orang malah lahap

    Suka

    1. Betul mbaaa, beda orang beda cerita dan pastinya bakalan berkesan… katanya gtunyaa mba anak pertama sama anak kedua suka beda kondisinya pas hamil ,hoalaaah kok bisa gitu yaaa πŸ˜‚

      Suka

  3. Aku masih ngilu kalo inget masa2 hamil, apalagi pas baca pengalaman temen2 yg lahiran pake induksi. Temenku harus diinduksi, dia juga cerita sakitnya ampuuun, dan ternyata dia alergi pula, JD mukanya bengkak kayak habis dipukuli. Pdhl efek dr obat. Ujung2nya ttp harus Cesar -_- . Mending dr awal pilih itu :D.

    Kalo aku sendiri dari awal hamil memang pilih Cesar, ga kepengin normal mba. Tapi biar begitu, ttp aja mules2 dikit ngerasain :p.

    Syukur yaa akhirnya si dedek lahir, dan sehat yg terpenting :).

    Suka

    1. Luar biasaa ya mba pake induksi itu, sakitnya malah double double πŸ˜€ . Klo dr awal pilih cesar gkn ngerasain tuh rasanya di induksi dan muka bengkakΒ² hehe .. iyaa mw cesar atau normal namanya lahiran ttep sakit yaa mbaa tp yg penting bayi lahir selamat dan sehat πŸ˜€ ..

      Makasii mbaa sudah berkunjung πŸ˜‰

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Amelia Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s